![]() |
| Halaman sekolah |
![]() |
| Gerbang Utama |
Mungkin saya kecewa, saya sedih mengetahui keputusan kedua orang tua saya untuk memindahkan saya ke jakarta. Ini untuk yang kesekian kalinya saya diminta untuk mengikuti nasihat dokter dan keluarga yang menyarankan saya pindah dari pondok La Tansa.
Saya memang terlalu keras kepala. Egois. Saya haya
memikirkan kenyamanan saya ketika berada disana, saya tidak memikirkan bagaimana sakitnya saya
ketika terbangun di pagi hari. Saya tidak memikirkan bagaimana khawatirnya
orangtua saat mendapati saya sedang terbaring lemah di klinik pondok. Saya
tidak memikirkan bagaimana repotnya teman-teman yang menjaga saya selepas
mereka pulang sekolah. Saya tidak memikirkan orang-orang yang setia menjenguk
saya.
Ah, perempuan keras kepala ini memang selalu menentang apa
yang sudah digariskan. Seakan ia tau apa yang terbaik untuk dirinya dan masa
depan. Ia seakan tak mau tau sakitnya mengahadapi kehidupan disana.
Saya tau. Menjalani kehidupan ala pondok tak semudah yang
orang lain bayangkan. Setiap jam-nya ada kegiatan yang harus dijalani. Setiap
menit-nya terprogram dengan sangat cermat. Tak ada satupun manusia disana yang
bisa berleyeh-leyeh, kecuali saat bulan Ramadhan tiba. Setiap paginya kami
terbangun untuk menjalankan apa yang sudah diterapkan disana. Malam harinya pun kami harus taat aturan yang
tidak memperbolehkan tidur diatas jam sepuluh malam.
Benar. Ini benar-benar keinginan saya sendiri. Keinginan
saya menjadi manusia yang disiplin. Disiplin dalam segala hal. Saya banyak
mendapatkan pelajaran hidup disana. Saya seakan tau apa yang harus saya lakukan
kedepannya.
Sungguh. Sungguh saya masih ingin berada disana. Berada di
tengah-tengah sesama manusia yang saling mengingatkan akan kebaikan. Berada di
tengah-tengah saudara serantau, seperjuangan. Ini bukan akhir yang baik bagi
kehidupan saya disana. Tapi, mungkin ini akhir yang baik untuk kehidupan saya
selanjutnya.
Tak ada yang mampu menggantikan nikmatnya hidup disana.
Nikmatnya berbagi dalam hal apapun. Nikmatnya bercengkrama dengan kakak-kakak
senior. Ah, saya rindu segalanya yang ada disana.
Ya, saya tidak boleh terlalu larut dalam kekecewaan ini.
Saya harus bangkit dari kemelut ini.
Ini bukan pengalaman yang buruk, tapi ini sebagai acuan
untuk saya lebih giat lagi belajar demi menapaki ranah yang nantinya akan saya
jejaki.
Perjalananku belum berakhir sampai disini kan ?
Masih ada kegagalan dan keberhasilan lagi kan ?
Masih ada kegagalan dan keberhasilan lagi kan ?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar