Selasa, 01 Januari 2013

La Tansa, pernah ada.

Halaman sekolah
Gerbang Utama

Mungkin saya kecewa, saya sedih mengetahui keputusan kedua orang tua saya untuk memindahkan saya ke jakarta. Ini untuk yang kesekian kalinya saya diminta untuk mengikuti nasihat dokter dan keluarga yang menyarankan saya pindah dari pondok La Tansa.


Saya memang terlalu keras kepala. Egois. Saya haya memikirkan kenyamanan saya ketika berada disana,  saya tidak memikirkan bagaimana sakitnya saya ketika terbangun di pagi hari. Saya tidak memikirkan bagaimana khawatirnya orangtua saat mendapati saya sedang terbaring lemah di klinik pondok. Saya tidak memikirkan bagaimana repotnya teman-teman yang menjaga saya selepas mereka pulang sekolah. Saya tidak memikirkan orang-orang yang setia menjenguk saya.


Ah, perempuan keras kepala ini memang selalu menentang apa yang sudah digariskan. Seakan ia tau apa yang terbaik untuk dirinya dan masa depan. Ia seakan tak mau tau sakitnya mengahadapi kehidupan disana.


Saya tau. Menjalani kehidupan ala pondok tak semudah yang orang lain bayangkan. Setiap jam-nya ada kegiatan yang harus dijalani. Setiap menit-nya terprogram dengan sangat cermat. Tak ada satupun manusia disana yang bisa berleyeh-leyeh, kecuali saat bulan Ramadhan tiba. Setiap paginya kami terbangun untuk menjalankan apa yang sudah diterapkan disana.  Malam harinya pun kami harus taat aturan yang tidak memperbolehkan tidur diatas jam sepuluh malam.


Benar. Ini benar-benar keinginan saya sendiri. Keinginan saya menjadi manusia yang disiplin. Disiplin dalam segala hal. Saya banyak mendapatkan pelajaran hidup disana. Saya seakan tau apa yang harus saya lakukan kedepannya.


Sungguh. Sungguh saya masih ingin berada disana. Berada di tengah-tengah sesama manusia yang saling mengingatkan akan kebaikan. Berada di tengah-tengah saudara serantau, seperjuangan. Ini bukan akhir yang baik bagi kehidupan saya disana. Tapi, mungkin ini akhir yang baik untuk kehidupan saya selanjutnya.


Tak ada yang mampu menggantikan nikmatnya hidup disana. Nikmatnya berbagi dalam hal apapun. Nikmatnya bercengkrama dengan kakak-kakak senior. Ah, saya rindu segalanya yang ada disana.


Ya, saya tidak boleh terlalu larut dalam kekecewaan ini. Saya harus bangkit dari kemelut ini.


Ini bukan pengalaman yang buruk, tapi ini sebagai acuan untuk saya lebih giat lagi belajar demi menapaki ranah yang nantinya akan saya jejaki.


Perjalananku belum berakhir sampai disini kan ?
Masih ada kegagalan dan keberhasilan lagi kan ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar